“Gunakanlah sehatmu sebelum datang sakitmu”

Ungkapan di atas terasa biasa saja, tak ada menariknya. Hidup sehat adalah hidup sehari-hari yang biasa, tak ada rasa, tak ada beban. Hidup dalam kondisi sehat seperti dua telapak tangan menepuk udara, kosong, dan tidak ada hambatan. Mumpung sehat banyak orang lupa bahwa tubuh perlu istirahat, juga lelah ka­rena terus bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, organ­ – organ dalam tubuh manusia juga bisa macet dan tak berfungsi kare­na dipaksa meladeni keinginan-keinginan yang tak pernah berhenti, padahal tubuh juga perlu memilih makanan atau minuman yang baik. Lalu, datanglah “sakitmu”. Dan saat itulah kebutuhan untuk sehat kadang baru bisa dirasakan. Belum lagi karena ketidaktahuan masyarakat terhadap penanganan berbagai masalah dasar kesehatan.

Kesadaran masyarakat untuk hidup sehat perlu terus digalak­kan. Begitupun sarana dan pela­yanan untuk menyehatkan juga perlu terus ditingkatkan. Ternyata pertumbuhan jumlah orang yang sakit tak sepadan dengan jumlah sarana dan pelayanan kesehatan. Jumlah orang sakit meningkat ta­jam, sementara sarana dan pela­yanan kesehatan sangat lamban. Angka kelahiran yang cukup tinggi, tapi angka kematian bayi juga masih tinggi. Karena itulah peningkatan sarana dan pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan yang mende­sak bagi masyarakat.

Salah satu aspek terpenting dalam meningkatkan sarana dan pelay­anan kesehatan adalah tenaga kesehatan. Betapapun banyaknya tem­pat sarana dan pelayanan kesehatan, namun kalau tidak ada tenaga kesehatannya hanya akan menciptakan bangunan-bangunan kosong dan alat-alat canggih yang tidak berguna. Sementara rasio jumlah pen­duduk dan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia jauh sangat tim­pang. Bukan hanya, jumlah (kuantitas), mutu (kualitas) pelayanannya pun jauh dari yang diharapkan.

Kondisi tersebut mengetuk rasa keprihatinan lima orang, yaitu: (1) dr. Muharso, SKM; (2) dr. Anityo Mochtar, Sp PD, KKV, sp JP (K); (3) dr. M. Sulaeman, Sp.A., M.M., M.Kes (MMR); (4) dr. Krishnajaya MS; dan (5) Oerip Hartono HP, yang saat itu menganggap situasi ini kurang men­guntungkan bagi bangsa Indonesia, padahal pertumbuhan penduduk tak bisa dihindarkan. Kelima orang tersebut tak ingin membiarkan ke­prihatinan ini terus berlanjut. Mereka ingin mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtera serta mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa ini.

Berawal dari niat mulia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pelayanan kesehatan, baik secara kuantitas maupun kualitas, kelima orang itu akhirnya menggagas perlunya menciptakan tenaga kesehatan yang handal dan profesional. Bukan hanya itu, mereka ingin tenaga kesehatan yang dilahirkan itu tidak memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di dalam negeri saja, tapi juga untuk me­menuhi tenaga kesehatan masyarakat di luar negeri. Langkah konkret untuk mewujudkan harapan tersebut, mereka bersepakat untuk me­nyelenggarakan pendidikan bidang kesehatan.

Berkali-kali mereka berkumpul dan mematangkan gagasan penye­lenggaraan pendidikan bidang kesehatan tersebut dalam berbagai kesempatan. Mereka menyimpulkan bahwa untuk menyelenggarakan pendidikan yang diharapkan membutuhkan sebuah lembaga yang berbadan hukum. Mereka pun memilih bentuk yayasan sebagai badan penyelenggara lernbaga pendidikan tersebut. Di antara nama yayasan yang muncul dalam pembahasan pendirian lembaga ini adalah Yayasan Pendidikan Kariadi dan Yayasan Pendidikan Widya Husada.

Ide menggunakan nama Yayasan Pendidikan Kariadi terinspirasi pada sosok pahlawan nasional Indonesia dr. Kariadi, seorang dokter pejuang yang gugur dalam pertempuran lima hari di kota Semarang melawan tentara Jepang. Nama dr. Kariadi telah diabadikan menjadi nama Ru­mah Sakit Umum Pusat di kota Semarang, yakni RS dr. Kariadi. Selain itu, di antara kelima orang tersebut juga menjadi bagian dari RS dr. Ka­riadi. Namun setelah dipertimbangkan matang-matang, penggunaan nama Yayasan Pendidikan Kariadi dinilai kurang tepat, karena yayasan ini tidak terkait sama sekali dengan keluarga dr. Kariadi.

Nama Yayasan Pendidikan Widya Husada akhirnya menjadi pilihan. Nama ini dinilai lebih tepat berdasarkan maknanya dan sekaligus lebih filosofis. Kata “Widya” berasal dari bahasa Sansekerta Vidya yang berarti pengetahuan, ilmu, sarjana, filsafat. Ada juga yang menghubung­ kan kata Widya dengan kata Viddhi yang berarti “the act of piercing,  perforating” (tindakan menembus, melubangi). Dan ada juga yang
mengartikan sebagai tempat pendidikan untuk orang bijaksana dan sukses (sarjana). Sedangkan kata “Husada” secara harfiah berarti obat atau yang berhubungan dengan kesehatan. Oleh karena itu, nama Widya Husada dapat diartikan sebagai tempat untuk mendidik sese­orang agar menjadi berpengetahuan, bijaksana, dan sukses dalam me­nyehatkan masyarakat. Dengan demikian nama ini dinilai sangat sesuai dengan gagasan yang diusung oleh kelima orang tersebut.

Pada 26 Mei 1997 atau bertepatan pada 19 Muharram 1418 H Yayasan Widya Husada resmi berdiri. Pada 28 Mei 1997 para pendiri menghadap Notaris Mustari Sawilin, SH. di kota Semarang. Pada tanggal itu resmilah tercatat sebagai sebuah yayasan bernama Yayasan Pendidikan Widya Husada disingkat YPWH. Yayasan ini tercatat dalam Akta Notaris Nomor 21 tanggal 28 Mei 1997.

Maksud dan tujuan pendirian YPWH adalah:

  1. Menyediakan saran dan prasarana serta memberikan jasa pelayanan di bidang pendidlkan kesehatan yang pada awal pendiriannya akan diupayakan pendidikan Ahli Madya/Sekolah/Akademi/Pendidikan Tinggi di Bidang Kesehatan, yang selanjutnya akan diperluas sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman;
  2. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di bidang keperawatan baik untuk konsumen di dalam maupun di luar negeri;
  3. Mendukung dan metaksanakan program pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan pembangunan di bidang kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat secara optimal.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, YPWH berusaha untuk:

  1. Menyelenggarakan pendidikan pelatihan di bidang kesehatan;
  2. Mengadakan seleksi terhadap calon siswa/mahasiswa yang merne­nuhi persyaratan untuk masuk pendidikan kesehatan;
  3. Menyelenggarakan pelayanan jasa konsultasi manajemen dan pe­ layanan kesehatan;
  4. Menyelenggarakan dokumentasi, publikasi, dan seminar ilmu penge tahuan dan teknologi terutama di bidang kesehatan.

Belum genap setengah tahun berdiri, para pendiri YPWH yang masih hangat itu seperti mendapat semangat baru sehingga mereka kembali menghadap Notaris Mustari Sawilin, SH pada 15 Desember 1997 untuk melakukan perubahan dengan diangkatnya dr. Hadisantoso sebagai anggota Sadan Pembina dan Bambang Ristanto, S.Sos sebagai Badan Pengawas. Perubahan tersebut tercatat dalam Akta Notaris Nomor 7 Tanggal 15 Desember 1997. Kemudian di tahun 1998 terdapat perubahan, berdasarkan hasil rapat juga YPWH yang di Akta Notariskan oleh Mustari Sawilin, SH dengan Nomer Akta 14. Perubahan tersebut adalah:

Badan Pembina :

dr. Muharso, SKM
dr. Anityo Mochtar, Sp PD, KKV, spJP(K)
dr. Krishnajaya MS
Oerip Hartono HP
dr. M. Sulaeman, Sp.A., M.M., M.Kes (MMR)
dr. Hadisantoso.

Badan Penasehat :

dr. Sri Astuti S
dr. M. Sulaeman, Sp.A., M.M., M.Kes (MMR)
dr. Muharso, SKM.

Badan pengawas :

dr. Krishnajaya MS
dr. Santoso Soeroso
Oerip Har­tono HP
dr. Rochmanandji W
Bambang Ristanto, S.Sos
dr. Djoti Atmodjo.

Badan Pengurus :

dr. Anityo Mochtar, Sp PD, KKV, sp JP. (K) (ketua)
Drs. J. Dahjono, DMHE, MM (wakil ketua)
Drs. M. Djajadi (sekertaris)
dr. M. Sulaeman, Sp.A., M.M., M.Kes (MMR) (bendahara)
Sri lsniani Soedomo, Bachelor’ of science (wakil bendahara)

Dalam pelaksanaannya membawahi ATEM, ARO, AKPER, AKFIS, ATRO dibentuk Badan Pelaksanaan Pengurus Harian dengan SK Yayasan dan menunjuk sebagai :

Ketua :

dr. Anityo Mochtar, Sp PD, KKV, sp JP (K)

Kepala Bidang pendidikan :

Drs. J. Dahjono, DMHE, MM.

Kepala bidang Kesekretariatan :

Drs. M. Djajadi

Kepada bidang Keuangan :

Sri lsniani Soedomo, B.Sc.

Staf Keuangan :

Dyah Purwaningrum, SE

Staf Umum (TU) :

Agung Meinarto, A.Md. Korn.

Perubahan demi perubahan juga tak terhindarkan karena adanya perkembangan dan kondisi yang ada. Pada tanggal 18 Januari 2011 YPWH dicatat dalam daf-tar yayasan di Direktorat Jenderal Adminis­trasi Hukum Umum, Departemen Hukum HAM RI Nomor AHU-391. AH.01.04 tahun 2011. Sampai dengan tahun 20012 telah terjadi bebera­pa kali perubahan, baik menyangkut Anggaran Dasar tentang Yayasan maupun dalam hal Badan Pembina, Badan Pengurus, Sadan Penase­hat, dan Sadan Pengawas. Pada tahun 2012 perubahan Akta Notaris diperbarui oleh Notaris Alfi Sutan, SH di Jakarta dengan Akta Notaris Nomor 2 Tanggal 3 Februari 2012.

 

Berdasarkan maksud dan tujuan, serta usaha yang termaktub dalam akta notaris YPWH, terutama tentang penyelenggaraan pendidikan formal dari tingkat kelompok bermain (play group) sampai perguruan tinggi, tak lama setelah terbentuknya YPWH pada tahun 1997, akhirnya gagasan untuk mendirikan dan mengelo­la perguruan tinggi pun mulai diwujudkan. Setelah mempertim­bangkan faktor tuntutan kebutuhan masyarakat dan ketersediaan sumberdayanya, akhirnya disepakati untuk mendirikan sekaligus 5 (lima) perguruan tinggi bidang kesehatan yang berbentuk akade­mi, yaitu: Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO); Akademi Refraksi Optisi (ARO); Akademi Fisioterapi {AKFIS); Akademi Elektra Medik (ATEM); dan Akedemi Keperawatan (AKPER).

Kelima akademi tersebut merupakan bidang-bidang yang sangat dibu­tuhkan oleh masyarakat, terutama bagi institusi kesehatan di negeri ini. Apalagi para penggagas dan pendiri YPWH merupakan orang- orang yang sangat paham dengan kondisi tenaga kesehatan pada saat itu. Untuk itu, mereka dapat mencari dan merekrut tenaga pengajar dan pengelola kelima bidang tersebut yang berasal dari kalangan yang ahli di bidangnya. Dengan kapasitarnya, mereka berhasil mendapatkan para dosen yang berlatar belakang praktisi dan/atau mantan pegawai profesioanat serta pejabat di bidang kesehatan.

Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) adalah Pro­ gram Studi Diploma Ill Teknik Rontgen. Program Studi ini merupakan pendidikan ilmu kesehatan khususnya di bidang Radiologi baik dalam segi pencitraan dengan sinar Rontgen maupun terapi dengan radiasi. Lulusan ATRO ini diharapkan mempunyai kompetensi melakukan pen­citraan diagnostik secara konvensional dan imaging modern.

Akademi RefrakSi Optisi (ARO) adalah Program Studi Diploma Ill Reflek­si dan Optisi. Melalui pendidikan ini, mahasiswa dididik menjadi tenaga Refraksionis yang handal dan mampu melakukan pemeriksaan sekaligus memberikan solusinya tentang Refraksi Optis (kelainan pengliha­tan). Di samping itu para lulusan juga dibekali ilmu tentang managemen optikal sehingga bisa bekerja di Rumah Sakit.

Akademi Fisioterapi (AKFIS) adalah Program Studi Diploma Ill Fisioterapi. AKFIS mendidik mahasiswanya agar menjadi tenaga Fisioterapi yang profesional dan telaten dalam menangani pasien. Dalam pelaksaan terapi dibekali juga dengan Modalitas Elektro Terapi (tenaga listrik), Hidro Terapi (tenaga air), terapi latihan, terapi manipulasi (tenaga ma­nusia), dan Aktino Terapi (tenaga sinar). Seorang Fisioterapis mampu menangani kasus-kasus pada: anak/pediatri, kasus Obsgin/lbu Hamil, Kasus penuaan/neuromuskular, Kasus Rematologi-Orthopedi/Muskulo­ skeletal, kasus Pernafasan-Vaskuler Kardiorespirasi, kasus cedera pada olahraga.

Akademi Teknik Elektra Medik (ATEM) adalah Program Studi Diploma Ill Teknik Elektra Medik. Para mahasiswa ATEM dididik untuk menjadi seorang teknisi alat-alat kedokteran, mulai dari yang sederhana sampai yang canggfh. Dengan dukung-an fasilitas praktikum yang memadai, serta di bawah asuhan para praktisi/SOM yang berkompeten di bidan­ gnya. Lulusan ATEM mampu mendata, memperbaiki (kalibrasi) mau­pun menganalisa alat-alat kedokteran yang rusak, misalnya: Pesawat Rontgen, ECG, Alat-alat laboratorium, dan lain-lain.

Akademi Keperawatan (AKPER) adalah Program Studi Diploma Ill Kep­erawatan. AKPER mendidik mahasiswanya agar menjadi tenaga pera­wat yang handal, cakap, serta berstandar nasional/internasional yang sanggup memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan bersikap profesional den­gan menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, yang dikembangkan pada kemampuan atau tindakan tegas yang penuh tanggung jawab dari profesi dalam melakukan tugas-tugasnya.

Setelah melalui tahap perencanaan dan persiapan yang matang, YPWH mengajukan izin kepada Menteri Kesehatan, u.p. Kepala Badan Peneli­tian dan Pengembangan SDM, u.p. Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan untuk pendirian kelima akademi tersebut. Selanjutnya di­laksanakan studi kelayakan sebagai syarat berdirinya sebuah pendidikan kesehatan, sampai keluar izin penyelenggaraannya. Berdasar­kan Keputusan Menteri Kesehatan u.p. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM u.p. Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan kelima akademi itu resmi beroperasi. ATRO Nomor HK.00.06.1.124321 tanggal 29 Juli 1997; ARO Nomor HK.00.06.1.124322 tanggal 29 Juli 1997; AKFIS Nomor HK.00.06.1.124323 tanggal 29 Juli 1997; ATEM Nomor HK.00.06.1.124324 tanggal 29 Juli 1997 dan; AKPER Nomor HK.00.06.1.12695 tanggal 25 Agustus 1997.

Syarat penting dalam penyelenggaraan pendidikan adalah sarana be­lajar-mengajar, tenaga pengajar, materi yang diajarkan, dan peserta didik. Sebagai lembaga pendidikan yang konsen di bidang kesehatan, kelima akademi itu tentu membutuhkan sarana belajar-mengajar yang memadai. Apalagi 5 (lima) bidang yang diselenggarakan oleh YPWH pada masa awal pendirian bukanlah sembarang bidang yang tidak bisa dipelajari hanya dengan membaca buku. Kelima bidang studi itu merupa­kan program pendidikan profesional yang membutuhkan pengetahuan sekaligus pengalaman melalui praktik.

Seiring perkembangan waktu dan tuntutan pendidikan, YPWH menjawab persoalan sarana belajar mengajar dengan langkah-langkah strategis. Langkah pertama adalah menyewa gedung di lingkungan RS dr. Kariadi Semarang. Upaya penyewaan gedung di lingkungan rumah sakit pemerintah ini untuk mempermudah akses bagt para pengajar­nya, yang kebanyakan berasal dari lingkungan RS dr. Kariadi. Setelah mengusahakan ruang sarana belajar mengajar, para pendiri memodali perbaikan ruang-ruang yang memang sudah lama sehingga layak seba­gai kelas.

Les Lokal dan Poli Dalam


Lokasi pertama sebagai sarana belajar-mengajar ditempatkan di Les Lokal. Les” Lokal merupakan salah satu gedung yang berada di ling­kugan dan sekaligus menjadi bagian dari RS dr. Kariadi Semarang. Setelah tidak dipergunakan untuk merawat para pasien, gedung dimanfaatkan oleh YPWH sebagai Kampus Terpadu tima akademi dengan cara menyewa. YPWH menyewa selama tiga tahun, mulai 1 Oktober 1997 sampai 1 Oktober 2000.

Pada tahun 1997 – 2002, di Les Lokal yang dibangun BOT dijadikan kelas dengan 1 ruang sebagai kantor. Sementara, Poli Dalam, ruang bekas gudang dan rekam medik yang tidak terpakai RS dr. Kariadi dijadikan kantor. Saat itu RS dr. Kariadi memang memiliki banyak ruangan tidak terpakai.

Mahasiswa angkatan pertama tercatat 168 orang yang diterima di se­luruh program studi. Program Studi Diploma Ill Teknik Rontgen (TRO) merupakan program yang paling banyak mahasiswanya, 55 orang, disusul AKPER dengan 43 orang. Sementara kapasitas ruangan dalam gedung tersebut masih terbatas. Karena keterbatasan ruangan, bagian teras Les Lokal ditutup dan dijadikan ruang kantor. “Dahulu ruang kan­tor dibangun di area teras/selasar sehingga ruang terlihat panjang se­perti gerbong kereta,” kenang lbu Nana Rohana, SKM, M.Kep, Direk­tur Akademi Perawat (AKPER) saat ltu.

Meski sangat sederhana, tanpa penyejuk air conditioner (AC), ruangan itu cukup representatif sebagai sarana belajar-mengajar. Meski de­mikian, para pengajar kadang bercucuran keringat saat menyampaikan  pelajarannya. Betapa tidak, dalam ruangan itu diisi tidak kurang dari 70 mahasiswa/kelas. Ruangan terasa begttu pengap dan panas.

Saat ttu, tenaga pengajar kurang lebih lima orang untuk setiap program studi, yang rata-rata berasal dari lingkungan karyawan RS dr. Kariadi Semarang. Mereka antara lain: dr. Soendjoto, Sp Rael, Nur Utama, B.Sc., Daniel Manurung, SH, M.Kes, Drs. J. Dahjono, DMHE, MM, KR Siman­juntak, Sri Mulyasih, Siti Akbari, Drs. I Made Artha, Nana Rohana, SKM, M.Kep, Drs. M. Djajadi, dan lain-lain.

Pada Tahun Kedua, 1998 antusias masyarakat ter­hadap pendidikan yang didirikan YPWH terus meningkat, 185 mahasiswa terdaftar dalam di kelima akademi ltu. Karena bertambahnya jumlah murid, YPHW menyewa ruang lagi di Poli Lama RS dr. Kariadi Semarang pada tahun 1998 sampai tahun 2001. Poli lama lnl terletak di sekitar Paviliun Garu­da, terdiri darl 2 ruang kelas dan 1 ruang kantor.

Gedung Poli Lama merupakan bangunan tua zaman Belanda dengan ciri arsitektur ruangan berlangit-langit tinggi serta lantai berwarna abu-abu kusam. Poli Lama harus menampung 200 orang, sementara kamar kecil yang tersedia hanya 2 buah. Kondisi ini meninggalkan kesan mendalam bagi Nanik Suryaningsih, S.ST, maha­siswa Program Studi TRO angkatan pertama. Untuk menuju ke Poli lama, salah satu Dosen STIKES Widya Husada ini harus melintasi pa­dang ilalang dan menyeberang jembatan. Roknya yang panjang sering tertusuk duri ilalang.

Kondisi ruang yang sederhana mengingatkan Soejarwo, ketika me­nerima tamu dari Timor Leste. Saat itu, Dosen DIII Akademi Elektra Medik (TEM) ini merasa tidak nyaman karena harus menjamu tamu dengan prasarana dan sarana yang seadanya. Tapi ternyata, semua baik-baik saja dan tamu tersebut terlihat nyaman. Pada tanggal 21 Mei 1999, YPWH menyewa lahan di halaman belakang Les Lokal, dekat rumpun pisang. YPWH bekerjasama dengan RS dr. Kariadi Semarang mulai bangun tujuh ru­ang melalui sistem Building Operation Tranfer (BOT). Setelah itu, ruangan yang dibangun harus dikembalikan ke pemilik tanah yakni RS dr. Kariadi. Pembebasan tanah untuk melakukan BOT termasuk sulit. Perlu perjuangan dan perdebatan panjang. Namun akhirnya, pembebasan tanah berhasil dilakukan. Langkah ini dilakukan oleh YPWH untuk menjawab lonjakan jum­lah mahasiswa yang mendaftar tak bisa dimungkiri. Kenyataan itu tampak pada jumlah mahasiswa yang diterima pada tahun ketiga, 1999, sudah men­capai angka 244 orang.

Kampus Gunung Brintik

Seiring dengan kebijakan RS dr. Kariadi pada awal tahun 1999 yang berencana mengembangkan sarana dan prasarananya, Poli lama itu harus dirobohkan. Untuk itu, akad sewa menyewa Poli lama itu terpaksa harus djerbaharui karena YPWH masih berhak memper­gunakannya sampai tahun 2001. Berdasarkan kesepakatan antara pengelola RSDK dan YPWH, sewa gedung Poli Lama diganti dengan Mess Karyawan Departemen Kesehatan (Depkes) di kawasan Gunung Brintik dengan harga dan waktu yang tetap sama dengan akad sewa menyewa sebelumnya.

Mess Karyawan Depkes yang dijadikan sebagai ganti itu terletak di JI. Bergota Husada, sebuah wilayah yang masih berada di lingkungan RS dr. Kariadi. Karena tempat ini berada di kawasan Gunung Brintik, kam­pus yang berada di sini disering disebut dengan Kampus Gunung Brin­tik.

Meski tidak semua unit dipindahkan di Gunung Brintik ini, namun unit­ – unit tesebut merupakan unit yang vital. Di antara yang pindah ke Kam­pus Gunung Brintik ini adalah: perpustakaan, kantor, dan laboratorium RO. Selain itu ada juga ruang kelas yang terpaksa dipindahkan, yaitu: ruang kelas TRO, ruang kelas Fisioterapi, dan 1 ruang kelas lagi.

Kampus Krapyak

Perkembangan dan pertumbuhan perguruan tinggi YPWH terus meningkat seiring dengan pertambahan mahasiswa dari tahun ke tahun peminat, terutama mahasiswa peminat ARO dan AK PER makin banyak. Melihat situasi dan kondisi tersebut YPWH berencana untuk memiliki lahan dan gedung sendiri untuk melancarkan pengembangan dan ke­giatan perkuliahan. Beberapa alternatif tempat yang diharapkan ada­lah daerah Mijen, Gunung Pati, Sampangan, dan Krapyak.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya YPWH memutuskan untuk membeli tanah beserta gedung di JI. Subali Raya No.12 Krapyak Semarang pada tanggal 10 Agustus 2001 seluas + 7.200 m2. Di tempat itu terdapat dua gedung bekas SMA PGRI, namun sudah lama tidak berfungsi. Kondisi dalam Gedung A waktu itu disekat-sekat menjadi beberapa ruang, yakni: Ruang Pimpinan, Ruang Kas, Ruang Administrasi, Ruang Kelas, dan Ruang Perpustakaan. Sementara, Gedung B dijadikan 4 ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar Akademi Kebidanan. Pada 2006, Gedung B yang awalnya terdiri dari 1 lantai direnovasi men­jadi 2 lantai dan menambah 4 ruang kelas.

Seiring dengan perkembangan kebutuhan masyarakat, khususnya pe­layanan kesehatan bagi kaum ibu, YPWH menambah satu akademi lagi bidang kebidanan. Bidan diakui sebagai tenaga professional yang ber­tanggung jawab dan kompeten, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk rnemberikan dukungan, asuhan, dan nasihat selama masa hamil, masa persalinan, serta masa nifas, memimpin persalinan atas tang­gung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawat­daruratan. Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pen­didikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.

Pada tanggal 10 Oktober 2003, YPWH mendapatkan izin mendirikan Akademi Kebidanan (AKBID) dari Departemen Pendidikan Nasional me­lalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomer 172/D/0/2003. Kegiatan belajar mengajar di daerah Krapyak pun dimulai. Sementara, beberapa akademi masih melakukan keglatan di Kampus Gunung Brin­tik Semarang.

Dalam Naungan STIKES

Pada tahun 2005, YPWH mengajukan alih bina dari kementerian Kesehatan ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Ke­menterian Pendidikan Nasional. Pengajuan ini juga merupakan upaya agar meningkat menjadi sekolah tinggi. Tahun 2007 berdirilah STIKES Widya Husada, dengan program Studi S1
llmu Keperawatan dan menggabungkan ATEM, ATRO, ARO dan AKBID menjadi Program Studi: D-III Rontgen, D-III Refraksi Optisi, D-III Teknik Elektromedik, dan D-III Kebidanan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Widya Husada, namun Akademi Keperawatan dan Akademi